30 Desember 2025

Jalanan Senayan terasa lengang dengan absennya kamu dari hariku. Berbanding terbalik dengan satu kala ketika tanpa sengaja melewati gang di Cipete yang padat oleh kenangan. Atau suatu mal di Jakarta Selatan yang mendengar namanya saja membuatku kembali meniti pada memori-memori yang dibangun. Mengingatnya, terasa seperti ada cubitan kecil dalam hati. Meringis, mengapa masih tertanam dan melukai. Mengapa, setelah sekian lama, nama dia masih menjadi pertemuan akan kata "bagaimana kalau" dan luka?

Malam menggantung, sementara potretmu tersisa dalam sejauh mataku memandang. Gemerlap Jakarta seolah enggan padam, seperti bayanganmu yang menjadi hantu di sudut-sudut kota ini. Ketika kamera ponselku tak menangkap setiap momen, netraku memotret tawamu di antara humor datarku. Dan semua tersimpan dalam otak kecilku yang masih enggan menghapus jejakmu di hidupku. 

Dan hujan pun enggan membawa pula rasa ganjil itu. Ketika kata cinta tak mampu mendefinisikan yang kurasa, namun melihatnya di genggam perempuan lain tak membuat rasa sakit itu hilang begitu saja. Seharusnya aku berpaling, seharusnya tidak semenyakitkan ini. Namun perlahan bayangannya menjadi jelas dari hanya sekadar kata, sekadar penjelasan tentang siapa pemilik hatimu. Dan mengapa sampai saat ini, setelah sekian purnama ponselku tak menerima telponmu lagi, rasa itu masih hadir dan mendamba eksistensimu di semestaku?


// dan kamu masih menjadi penduduk tulisanku, bersama rindu-rindu tak terbalas
30.12.25; 5.51pm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar