2 Desember 2025

day 2: views from sixteen stories up

Belenggu malam peneman sunyi. Kontradiktif dengan jalanan di bawah sana yang enggan mengurangi lampu-lampu merah di belakang kendaraan. Bosan akan penantian tak berpenghujung, bosan akan hidup yang tak memiliki makna. Bosan, akan ketidakhadiran rasa dalam benak ini. Dipeluk dingin, meracau pada angin. Kota ini tak lagi menjadi mimpi, semua membusuk pada kenangan akan hangatnya rumah. 

Dari lantai ke-16 apartemen yang terpecah-belah, aku mendapati diri meratapi hari yang semakin menyepi. Mereka yang tak pergi, namun juga digapai rasanya perlu alasan pasti. Dia yang dirindu, namun hadirnya telah terhapus oleh sang waktu. Mereka yang kini jauh, rasanya perlu sekian purnama untuk mengumpulkan pundi-pundi ditukar selembar tiket. Semua kini terlihat jauh, sejauh mataku memandang di ketinggian Ibu Kota. 

Semilir angin menghampiri balkon ini, mencoba menghapus segala beban yang semakin menumpuk. Patah hati sekali lagi. Patah semangat berulang kali. Patah asa untuk hidup kembali. Nampaknya setapak di tengah taman itu memanggil, mungkin melewati garis ini menjadi cara tercepat menghilangkan penat. Mungkin, semuanya hanyalah mimpi dan aku tak ingin bangun kembali


// dari ketinggian, dari keputusasaan
02.12.25; 11.29pm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar